Sastra, Opini, Selasar, Profil, just for you,

Tuesday, 30 October 2012

“Sampah Membawa Berkah”



Pagi itu pukul 09.30 pagi, hari sabtu (28/10/2012) bertepatan dengan hari sumpah pemuda saya berangkat ke alun-alun Purworejo. Saya berpamitan dengan kedua orang tua untuk minta doa restu, sekalian meminta uang saku untuk jajan hehehe…. (Maklum masih minta)
Mengendarai motor merah Jupiter Z kesayanganku, aku berangkat dari rumah yang terletak tidak jauh dari alun-alun Purworejo tepatnya di dusun Baledono. Awalnya saya hanya berniat untuk mengikuti baksos yang diadakan oleh KAMAPURISKA (Keluarga Mahasiswa Purworejo UIN Sunan Kalijaga). Ya sekalian mengisi liburan siapa tahu ada cewek cantik yang nyantol gitu… Baksos untuk memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-84 di isi dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan di sekitar alun-alun Purworejo dan membagikan stiker.
Sesampai di sana saya merasa kecewa terhadap diri sendiri, karena datang saat kawan-kawan KAMAPURISKA sudah melaksanakan setengah dari kegiatan yang diselenggarakan. Coba  datangnya lebih awal pasti akan lebih mengasyikan. Tanpa banyak berfikir langsung saja saya ikut berbaur dengan teman-teman yang lain, untuk ikut memungut sampah bersama teman-teman. Karena keterlambatan, saya sampai tidak ikut berperan menyuarakan isi sumpah pemuda yang sudah dikumandangkan sebelumnya.
Ditengah-tengah kegiatan memunguti sampah, saya melihat beberapa pemulung yang sedang merebahkan badan di kursi yang terbuat dari semen yang berada di gazebo alun-alun. Kerutan di wajahnya menggambarkan kerasnya kehidupan yang dijalaninaya berbaju kusam tak terawatt. Tak lama berselang saya menghampiri pemulung dan berbasa basi untk mengobrol.
“Apakah bapak,ibu mau botol plastik dan kardus bekas???”, tanya saya.
“Iya mas”, jawabnya.
 “oke pak, buk nanti saya dan teman teman akan memilah botol plastik dan kardus untuk bapak dan ibu”.
Setelah itu saya kembali bergabung dengan teman yang lain untuk meneruskan kegiatan memungut sampah di sekitar alun alun Purworejo. Setelah selesai, sampahpun sudah terkumpul banyak, saya dan kawan-kawan langsung memilih botol plastik dan kardus bekas yang sekiranya masih bermanfaat bagi pemulung, sedangkan sampah yang tidak di gunakan langsung di buang ketempat sampah.  saya dan teman saya hantarkan botol plastik dan kardus itu kepada pemulung yang saya temui. “Ini pak sedikit botol plastik dan kardus bekas yang bias saya dan teman-teman kumpulkan” sambil menyerahkan kepada pemulung tersebut. Walaupun hanya berhasil mengumpulkan sedikit botol plastik dan kardus bekas, saya bisa melihat sedikit kebahagiyaan dari raut wajah mereka saat menerimanya. Bapak dan Ibu peulung itu berterimakasi dan mendoakan kami semua, saya menjadi terharu melihat hal itu. Ya, mungkin bagi kita sampah tersebut tidak berarti, tapi bagi mereka itu sebuah harta yang bisa ditukarkan dengan sesuap nasi yang bisa menyambung kelangsungan hidup mereka dan keluarga mereka.
Pelajaran kehidupan yang sangat bermanfaat bagi ku yang bisa saya petik dari pertemuan dengan pemulung itu adalah sesuatu hal yang sangat sepele yang kadang kita remehkan dan kita anggap tak berguna, dimata kita boleh jadi tak berguna tapi bagi orang lain mungkin itu sebuah harta yang berhaga. Kepedulian terhadap lingkungan untuk hidup bersih, dan saling menolong tampa melihat status sosial yang merekat pada diri seseorang.
Penulis adalah salah satu mahasiswa UIN SUKA jurusan PMH (perbandingan mahzab dan hukum) Fak Sary’ah.

Monday, 29 October 2012

Cintaku di Kaliurang





Malampun sudah larut,jam dinding mnunjukan pukul 12.00 tengah malam. tetapi mata ini susah untuk dipejamkan. Ahhh…. Kenangan itu telah terlintas kembali dalam fikiranku, kenangan yang mengusik hidup ku dan takkan terhapuskan oleh waktu. Kenangan indah, kenangan tentang cinta kasih manusia, kenangan akan cinta kita berdua. Karena telah banyak kenangan kenangan manis yang kau berikan untuk  mengisi waktuku dalam hidup ini. Ya” Sinta nama itu yang tertanam dan berakar dalam otakku yang selalu menari nari di anganku.
 Dipojok kita duduk berdua, bercanda ria berselimuttkan dinginya angin malam yang menusuk tulang sum sum ku.sebuah semyum kecil yang berkembang dari bibir merahmu membuatmu begitu manis ditambah Alis tebal, mata sipit dan wajah sedikit oval yang menghiasi kecantikanmu. Malam itu aku dan kamu menghabiskan waktu bersama. Aku memesan segelas kopi dan  jeruk panas untuk menemani kita. tak ada kata yang keluar hening dan sepi. ‘Sinta hanya  menatapku dengan tatapan penuh makna, atau hanya tatapan kosong saja” aku tak tahu makna tatapannya. Sebelum aku memulai percakapan ringan, dan ahirnya kata demi kata yang mengalir bisa mencairkan suasana, membuat kita  larut dalam canda dan tertawa bersama. kau genggam erat tanganku, kau rayu aku dengan kepolosanmu. Kau juga memelukku saat kita duduk beralaskan tikar di angkringan pojok jalan, terletak di dekat Tugu Jogjakarta. Hujan turun rintik rimtik di malam itu yang membuat pelukanmu semakin erat.

*** 

Oyo bangung sudah siang tu….. “kata Sinta” saat kau bangunkan aku dari tidurku. Kebiasaanmu yang masuk kamar kos ku tampa ketuk pintu atau mengucapkan salam, karena aku masih tertidur dengan pulasnya dikasur kos yang memanjakanku membuatku malas untuk menyambut pagi,hehehehe dengan secangkir kopi kau merayuku untuk bangun di pagi itu. kau selalu hiasi semangatku dengan kata kata motivasimu yang membuat aku semangat mencari arti hidup. Cintamu dan air matamu merubah kebiasaan ku sehingga aku tahu makna mencinta dan dicintai.

Sepanjang jalan Bimokurdo menjadi satu dari sekian banyak saksi bisu waktu kita merajud mimpi dan harapan kita, juga ke-abadian akan cinta. Dinding tangga demokrasi yang terletak di pojok kampus juga tak luput dari satu saksi bisu, yang tergambar bagai relief karena menjadi basah oleh peluh saat kita sandarkan tubuh lelah selepas kita berpelukan. Yah, hari itu hari jum’at, bersama motor bututmu kita telusuri pojok jalanan Jogjakarta, mengalirkan kasih menggeliatkan kerinduan akan kebersamaan. Apakah engkau masih ingat???

***

Sebenarnya inggin kukubur rapat rapat kenangan itu, kenangan yang kurasa paling indah saat bersamamu. saat kita pergi menuju salah satu wisma di objek wisata kaliurang untuk kegiatan makrab bersama. sepanjang jalan kau peluk erat jiwaku didalam bis baker pada senjanya hari sabtu. setelah kita sempat tegang karena mesti nego dengan pak kondektur, karena bekal kita yang sangat tipis, saat menuju obyek wisata Kaliurang. Udara pegunungan membuat kita kedinginan ditambah lagi oleh derasnya hujan yang membasahi tubuh kita. Pelataran mushola Al-Iklas tempat kita duduk berdua, berteduh dari derasnya hujan saat itu waktu ba’da ashar. Setelah hujan berhenti langkah kaki langsung menuju ke wisma Symphoni disana teman teman yang yang lain sudah lama menunggu. Di sudut wisma yang tenang kita duduk bersama untuk mencari keromantisan, merajut cinta kita berdua. Malam itu, kita disambut oleh dinginya angin malam diwisma symphoni kaliurang. Sampai  kita tebuai dalam indahnya cinta kasih, tak terasa waktu terus berlalu sampai pagi. Bersama buaian kata manismu kita curahkan kerinduan. Sampai tak sadar aku terkapar hingga sepiring nasi goreng bukti Kesucian cintamu tlah bangunkan ku dari mimpi, lalu kita senandungkan syair-syair harapan, tentang cinta, tentang dahaga, dan tentang memberi juga kebersamaan. 
Hem……… waktu itu tanggal 5 Juni 2004, Swear….ku bahagia banget seiring sejuknya udara pagi di halaman wisma itu, setelah kita berjanji tuk saling memiliki selamanya. Ku kecup keningmu sambil ku bisikkan “sayang….. aku percaya klo mencintaimu bukanlah sebuah kesalahan dan kita akan terus bersama melangkah meniti kehidupan yang kejam ini”Kini….Cinta ku masih utuh ku simpan di hati, meski engkau jauh di sana, dan entah sampai kapan akan tetap bertahan.
Engkau pergi meninggalkan berjuta kenangan dan mimpi kita, engkau memilih membuat mimpi barumu dan meninggalkan aku dengan membawa separuh hatiku yang telah kau curi dariku…..

Santi,,,,,

Kau satu dari sekian wanita yang pernah singgah…

Engkaulah yang bisa meluluhkan aku…

Bukan cantik, dan seksi parasmu…

Kelembutan hatimulah yang membuat aku mengerti…

Maafkan aku atas semua salahku…

Kini engkau pergi dengan membawa separuh hidupku..

Disini aku tetap menunggumu….

Menunggu tampa batas waktu..

Karena kau cinta terahirku..

“ I Will Always Love You Sinta”

Cerpen kang Rifai Himawan (MH)
Editing : Muh. Rozakun
Judul : cintaku di Kaliurang (29/10/2012)