Sastra, Opini, Selasar, Profil, just for you,

Sunday, 25 March 2012


NAPAK TILAS SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI
KABUPATEN PURWOREJO
DI DEDIKASIKAN UNTUK :
KAMAPURISKA











UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN KALIJAGA
KAMAPURISKA
2012

KILAS PANDANG PURWOREJO
Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.
Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal    5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.
Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung
Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai“parahiyangan”. Atau para hyang berada.
Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.
“ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …”
Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano). Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak.
Peristiwa 5 Otober 901 M tersebut akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo dipilih dan ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.
Perlu dicatat, bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain, karena dalam sejarah mencatat sejumlah tokoh. Misalnya dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah Selatan, tokoh Sunan Geseng diknal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola dan pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang.
Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani.
Dalam Perang Diponegoro abad ke XIX (1825-1830), wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pangeran Diponegoro mndapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Pada Perang Diponegoro itu, wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo.
Lambang daerah berbentuk perisai dengan gaya artistik yang berisi makna sbb :
Pohon Beringin
:
bermakna rasa kebangsaan dan pengayoman 




Bedug dengan 17 pantek 
:
merupakan ciri khas daerah Purworejo, dengan keistimewaannya yang terbuat dari kayu jati utuh merupakanyang terbesar di Indonesia





Cakra dengan 17 mata 
:
dalam cerita pewayangan merupakan senjata Wisnu dalam tugasnya memelihara kesejahteraan dan memberantas angkara murka





Bintang segi lima
:
menunjukkan bahwa Rakyat Purworejo adalah masyarakat yang Berketuhanan YME





Pita merah putih 
:
menunjukkan bahwa Purworejo adalah bagian dari negara Republik Indonesia 





Gelombang di kanan-kiri bintang 
:
menggambarkan keadaan alam Purworejo yang disebelah utara merupakan daerah pegunungan yang penuh dengan kekayaan alam 





Garis-garis putih dibawah gelombang hijau 
:
menggambarkan keadaan alam Purworejo yang mempunyai sungai-sungai yang sangat penting terutama untuk pertanian misalnya S. Bogowonto dan S. Jali 





Petak-petak dibawah garis 
:
menggambarkan keadaan alam yang bagian tengah dan selatan penuh dengan sawah dan ladang 





Padi 45 butir dan kapas 8 buah 
:
menggambarkan cita-cita masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur.
Catatan : cakra 17 mata, kapas 8 buah, padi 45 butir- melambangkan kesetiaan rakyat Purworejo pada Proklamasi 17-8-1945 





Tiang di tepi kanan dan kiri 
:
merupakan lambang penegakkan kebenaran dan keadilan 





Lipatan-lipatan / wiron di kanan kiri bawah 
:
lambang kerapihan, kehalusan, keramahan, kehalusan budi 





Bokor dengan style kepala banteng 
:
bokor adalah wadah / tempat, melambangkan kebesaran jiwa rakyat dan pemerintah daerah yang mampu menampung berbagai masalah kehidupan. Kepala banteng lambang kerakyatan atau keinginan mewujudkan Demokrasi Pancasila 





Pita putih bertuliskan PURWOREJO
:
bermakna kesucian, ketulusan, keluhuran budi 





Rantai 
:
lambang kemanuasiaan dan gotong royong. Bentuk persegi lambang wanita, bentuk bulat lambang pria 





Dasar hitam
:
bermakna keabadian, keteguhan hati, ketenangan 







MASUKNYA ISLAM DI PURWOREJO
Akhir abad ke-15, melalui Walisongo, Islam semakin menyebar luas di Jawa. Namun, ada satu wilayah yang saat itu masih hutan belantara, mayoritas penduduknya masih belum beragama Islam. Daerah itu bernama Bagelen, yang pada saat itu meliputi wilayah Purworejo, Kebumen, sebagian Wonosobo, dan Kutoarjo. Datanglah Sunan Kalijaga ke wilayah itu. Saat masuk ke Bagelen, ia konon bertemu tukang nderes atau pencari nira kelapa yang bernama Cakrajaya. Kagum dengan tingginya ilmu Sunan Kalijaga, Cakrajaya bermaksud berguru. Sunan Kalijaga menyuruh Cakrajaya bersamadi di dekat Sungai Bagawanta, lalu meninggalkannya sendiri.
Setahun kemudian, ia bersama muridnya datang ke dekat sungai tempat Cakrajaya bertapa. Namun, di tempat itu tak terlihat apa-apa, kecuali rerumputan liar. Sunan Kalijaga menyuruh muridnya membakar rerumputan liar itu. Ternyata, Cakrajaya yang tak lain keturunan Nyai Ratu Bagelen masih bertapa di tempatnya semula. Namun karena tempatnya dibakar, punggung Cakrajaya gosong. Sejak saat itulah, Cakrajaya yang dikenal memiliki ilmu agama yang teguh disebut dengan Sunan Geseng (dari kata gosong).
Melalui Sunan Geseng inilah dakwah agama Islam di Kadipaten Bagelen berkembang. Sebagai murid Sunan Kalijaga, gaya dakwah Sunan Geseng pun tak berbeda dengan metode gurunya, yakni mengakomodasi ajaran Syiwa-Buddha dalam Islam. Terjadilah akulturasi. Akulturasi ini menghasilkan komunitas Islam-Kejawen yang kuat di Bagelen. Komunitas ini masih bertahan hingga kini. “Di Bagelen, yang termasuk sekarang di Purworejo, banyak penganut Kejawen. Tetapi, mereka beragama Islam. Adat dan tata cara Jawa, seperti menjamas pusaka, menghormati pepunden, dan kepercayaan akan sengkala Jawa masih dipertahankan, meski mereka itu shalat,” ujar Oteng Suherman, pakar Sejarah Purworejo yang lama mendalami Komunitas Bagelen. Perpaduan Islam-Jawa ini menjadikan masyarakat Bagelen memiliki karakter khas. Sejak dulu warga Bagelen dikenal pemberani, jujur, setia, dan berjiwa besar. Tak ayal bila Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama), banyak merekrut orang Bagelen untuk perang melawan adipati di Jawa Timur yang menolak tunduk. Pada zaman kolonial Belanda, Bagelen adalah medan tempur Pangeran Diponegoro.
Syiwa-Buddha.
Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah. Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa. Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala. Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.
Sungai Bagawanta
Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora. Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.

Tuesday, 20 March 2012

Anekdot Bendera Negara


Juli 18, 2011






i

1 Vote
Quantcast
Minggu lalu, ada obrolan menarik yang saya ikuti nih.. tentang Bendera Negara dan realita yang terjadi di Indonesia tercinta ini. Malah obrolan ini bisa dibilang semacam anekdot. Lucu menggelitik. Haha
Karena dalam suasana kursus Francais, tentu tak salah jika yang dibahas pertama adalah bendera Prancis dulu. Ada apa dengan bendera negara yang terkenal dengan menara Eiffelnya itu?
http://ahmadmushofihasan.files.wordpress.com/2011/07/bendera-prancis.jpg?w=157&h=104
Bleu-Blanc-Rouge (Biru Putih Merah)
Hmm.. mari kembali ke pelajaran PPKn dan Sejarah di SMP dan SMA. Saya yakin teman-teman cenderung tidak memperhatikan atau mungkin mulai mengantuk saat pelajaran tersebut, tapi paling ngga pernah dengar kan tentang arti warna bendera itu?
Yuph, ini artinya:
Biru- Liberte (Kebebasan)
Putih- Egalite (Kesamaan)
Merah- Fraternite (Persaudaraan)
Usut punya usut, perhatikanlah pula bendera Negara berikut
http://ahmadmushofihasan.files.wordpress.com/2011/07/bendera-belanda.jpg?w=158&h=105
Serupa dengan Prancis bukan? Hanya di counterclockwise 90° dan jadilah bendera versi horizontal. Bendera manakah itu? Tak lain tak bukan, penjajah terlama negara kita, Belanda.
Mari putar kembali memori pelajaran sejarah tentang muasal bendera merah putih. Dalam suatu peristiwa di Kota Pahlawan , warna biru dari Belanda disobek dan jadilah bendera Indonesia, sang saka merah putih.
http://ahmadmushofihasan.files.wordpress.com/2011/07/bendera-indonesia.jpg?w=157&h=90
Ada yang aneh di sini? Tidak, sampai kita melihat dari sudut pandang bendera Prancis. Biru artinya? Kebebasan. Yak, mungkin sekedar kebetulan, hal itulah yang hilang dari bangsa kita. Tidak hanya selepas proklamasi kita kembali diserang penjajah, tapi sampai saat ini pun bangsa kita tak pernah bebas dari cengkeraman pengaruh asing. Dari pemerintahan sampai lifestyle kita didikte oleh bangsa asing. Ketahuilah bahwa bangsa kita belumlah layak menyandang kata bangsa yang “bebas”.
Baik sekarang kita beralih dulu dengan sudut pandang maknawi versi kita sendiri. Konon sederhananya, merah berarti berani dan putih berarti suci. Karena pemisahan secara horizontal tidak vertical, mengesankan ada sesuatu yang diprioritaskan terlebih dulu. Merah di atas putih. Realita yang berkenaan dengan itu?
Kebetulan lagi atau tidak, bangsa kita memang memprioritaskan keberanian dulu di banding kesucian (kebenaran). Tak perlu jauh-jauh sampai proses tawuran dalam pertandingan sepakbola. Kita liat dari sisi aparat penegak hukum saja, yah main tangkap dan hajar saja, benar atau salah, adil atau engga, itu urusan belakangan. Tampaknya mental “senggol bacok” mulai mengental di jiwa bangsa kita. Merespon secara over dan merendahkan kebenaran yang belum terungkap. Merah di atas putih.
Oke, itu diliat dari versi sendiri. Coba kita liat dari sudut pandang versi Prancis. Merah berarti persaudaraan dan putih berarti kesamaan. Kalau di Prancis pembagian warnanya vertical (tidak ada warna yang lebih di atas), berarti kebebasan-kesamaan-persaudaraan mereka junjung secara merata. Nah, kalau merah putih kita, mungkin bisa diartikan secara mentah sebagai “persaudaraan” di atas “kesamaan”. Realita uniknya?
Banyak petinggi bangsa ternyata mengaplikasikannya secara mentah-mentah! Persaudaraan di atas kesamaan = sudah pasti, Nepotisme. Yah, saudara dulu lah yang didahulukan, masalah sosial urusan belakang. Konon itulah yang terjadi di rezim yang berkuasa 30 tahun lebih di Negara kita, dan tanpa harus menyalahkan suatu pihak, toh budaya itu juga masih kerap terjadi sekarang.
Realita yang pas, bukan?
Nice but ironic? Or ironic but nice?
**