Sastra, Opini, Selasar, Profil, just for you,

Tuesday, 30 October 2018

Rumah Tradisional di Jawa


Desa merupakan kesatuan territorial sebagai kesatuan hukum. Kepala Desa disebut lurah (beberapa dialek atau daerah tertentu seperti Jawa Barat (kepala desa disebut kuwu dan lurah adalah kepala dukuh). Desa dibagi lagi atas dukuh-dukuh. Untuk balai pertemuan terdapat bangunan yang disebut balai desa yang letaknya biasanya ditengah-tengah lingkungan desa. Balai desa dilengkapi dengan alun-alun desa yang kadang-kadang ditengahnya ditanam pohon beringin. Disebelah barat balai desa terdapat masjid dan disebelah selatannya biasanya merupakan rumah kepala desa. Rumah penduduk memiliki berbagai type. Bahannya juga bermacam-macam tergantung kepada kemampuan penduduk sendiri. Secara tradisionil bahan bangunan rumah untuk dinding dipergunakan bamboo (gedek, glugu (batang pohon nyiur) atau kayu jati untuk tiang rumah: atapnya dari daun nipah atau kelapa (blarak). Mengenai bentuk rumah ditentukan oleh bangunan atapnya sehingga rumah tersebut ada yang disebut limasan, serotong, joglo, panggangepe, dara gepak, macan nderum sinom, tajug, kutuk ngambang.

        Bentuk rumah limasan dan joglo adalah yang paling banyak kita temukan pada rumah tradisionil Jawa. Limasan dan serotong paling umum dipakai untuk kalangan petani dan golongan biasa, sedangkan joglo sering dipakai untuk golongan bangsawan. Rumah-rumah tradisionil yang tetap memakai pola-pola lama seperti joglo, srotong, dara gepak. Beberapa rumah yang bentuknya tradisionil dengan atap berbentuk joglo beratap genting dan bertiang serta dinding kayu jati, dihiasi pula dengan ukiran-ukiran yang bagus masih banyak kita temukan di Kudus. Denah rumah berbentuk empat persegi dibagi dalam empat ruangan dengan ruangan tengah yang paling luas ruang depan yang merupakan tempat duduk atau tempat menerima tamu disebut jagastru bagian tengah yang disebut gedongan dipakai untuk tuan rumah dengan bagian-bagian yang terpenting disebut omah, kemudian disisi kanan terdapat ruangan untuk keluarga. Atap yang berbentuk joglo ada yang tinggi dan ada yang rendah, tinggi rendahnya bentuk atao akan terlihat kalau kita masuk ke bagian dalam (Gedongan) dimana langit-langit dibuat bersusun terdiri dari 7 lapis, 9 lapis, 11 lapis dan sebagainya.

Monday, 29 October 2018

Rumah Tradisional Nias

Orang-orang Nias mendiami kepulauan Nias dan beberapa pulau kecil. Desa-desa di Nias sangat terpencar dan jarak antara satu tempat dengan lainnya sangat sukar ditempuh dan didirikan di atas puncak-puncak bukit. Desa-desa disana disebut banua terdiri dari beberapa kampung dan tiap-tiap kampung terdiri dari 20 sampai 200 rumah. Bentuk denah desa seperti huruf U dimana rumah kepala desa yang disebut Tuhenori (kepala negeri) atau salawa (kepala desa) sebagai pusat terletak diujung garis. Rumah kepala desa ini dilengkapi sebuah lapangan dimana kedua sisi lapangan terdapat deret rumah penduduk. 
 Bentuk rumah tradisionil ada dua macam yakni rumah adat dan rumah biasa, Rumah adat (omo hada) adalah bentuk asli Nias sedangkan rumah biasa (omo pesisir) berasal dari luar. Rumah adat didiami oleh tuhenori atau salawa, para bangsawan setempat sedangkan lainnya untuk rumah rakyat biasa. Bahannya terbuat dari kayu nibung dengan atap rumah dari rumbia. Denahnya berbentuk bulat telur dan rumah biasa berdenah empat persegi. Ruangan untuk rumah adat dibagi dua bagian yakni depan dan belakang. Bagian depan dipergunakan untuk menerima tamu dan bagian belakang untuk keluarga pemilik rumah berdiri diatas panggung. Dimuka rumah adat terdapat bangunan megalith seperti tugu batu (menhir) yang di Nias selatan disebut saita gari sedangkan behu (Nias Tenggara) dang owe salawa (Nias Utara, Timur, Barat). Didepan rumah juga terdapat tempat duduk dari batu disebut daro-daro atau harefa (Kuntjaraningrat, 1971, 42-44)